Jalan pintas menuju lubang yang lebih besar – A Sideway to a bigger hole

PURBALINGGA – 26/10/17, Karakter nasabah bank harian, dan banyak warga yang terlilit hutang di perdesaan, tidak semata karakter tapi budaya orang yang tidak rajin menabung. Menurut Tejo, 43 th, Banyak sifat nasabah mirip filosofi penderes. (sic).

Kemampuan daya beli masyarakat yang besar, kondisi pasar yang cap sewu banyak yang terjebak dengan tingkat daya beli yang rendah karena ekonomi lemah terpicu karena banyak tanggungan dan diperparah konsumerisme.

Akibatnya secara makro uang yang masuk ke desa lebih banyak tanpa berputar secara produktif di desa. Contoh lain adalah banyak yang terjebak hutang dari banyak sumber, malu dengan tanggungan keuangan pada akhirnya sisa penghasilan yang sebenarnya harus dialokasikan untuk kebutuhan hidup dasar akhirnya dikorbankan. Kembali lagi kecukupan ekonomi konsumsi keluarga hanya ditutupi dengan harga harga barang yang murah.

Seandainya pendapatan keluarga masyarakat terencana dengan baik, dan kebiasaan konsumerisme berkurang,didukung sistem ekonomi desa yang melembaga dengan kesadaran masyarakat yang terbuka akan perubahan jaman apalagi didukung dengan pembangunan desa yang seharusnya lebih berorientasi investasi jangka panjang daripada jangka pendek, apalagi tidak mengutamakan pemberdayaan masyarakat maka kondisi kemandirian desa jauh dari harapan

Tata kelola dan sinergi antar program pembangunan juga diperlukan tidak hanya kegiatan instan saja yang terdanai. Perdes sebagai payung hukum sangat diperlukan untuk memperkuat tata kelola ini.

Potensi masyarakat dan sumberdaya manusia, perlu disentuh dengan sinergi ini, karena merupakan objek sekaligus subjek pembangunan. Privatisasi sah dilakukan demi kepentingan masyarakat yang lebih luas, banyak potensi yang terabaikan dari pikiran.

Perkerjaan ini membutuhkan kader kader masyarakat yang tidak hanya pandai mengkritik jalannya pemerintahan dan pembangunan di desa namun dibutuhkan kader masyarakat yang mau bekerja tanpa pamrih.

Mari besarkan usaha desa, wirausaha desa, dan inovasi desa dari diri kita masing masing agar bisa mewujudkan mimpi mimpi setiap warga masyarakat melalui wadah yang semestinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *