KAJIAN DASAR HUKUM INFAQ TAKAFUL (ASURANSI DENGAN PENDEKATAN ZAKAT INFAQ SHADAQOH/LAZIS/BAZNAS)

infaq-takaful-syarikah

KAJIAN PENGELOLAAN ZAKAT INFAQ SHADAQOH SEBAGAI ALTERNATIF SEMACAM ASURANSI

Fadlun Edy Susilo. 2016, Spot News. Entitled: “Evaluation of Collection and Distribution of Zakat Funds (Studies in the LAZIS of Infaq Taqaful Syarikah UPK Sinergis of Mrebet Year 2008/2016.)”
Keywords: Zakat, Fund, Collection, and Distribution

PREFACE

Zakat is the third pillars of Islam, endorsing maaliyah ijtima’iyyah that represents an important position in Islamic teaching and community empowerment, and is one of the Islamic financial instruments that can ease the burden of the people in need. Based on repots from BPS (Central bureau of (Statistics) in 2008 the population of the poor in Indonesia reached 34,96 million people. Zakat is taken by amil zakat from people who have more wealth and then it is distributed to the one who deserve such zakat (mustahiq). It case of it’s collection process, it’s expected that effort should be maximized and eventually the zakat funds can also be optimized. With the distribution of charity funds to mustahiq, it is expected to improve the economic welfare of the mustahiq.

LAZIS of Infaq Taqaful Syarikah UPK Sinergis organized in one events in zakat collection and  dissemination such as by organizing several fund and zakat based activities collaboration with in recruitment of muzakki from SPP/UEP group. To strengthen good organization relationship LAZIS holds a meeting between the committee, muzakki, and mustahiq once a year. Later the distribution of fund is in forms of assurance risk and funding for hospital cost by customer. However, the distribution of funds so far not only for venture capital but a combination from zakat fund and wakaf so collections it self.

PENDAHULUAN

Zakat termasuk rukun Islam ketiga, merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang menduduki posisi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat baik dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan umat, dan merupakan salah satu instrumen keuangan Islam yang dapat meringankan
beban orang-orang yang membutuhkan. Berdasarkan laporan dari BPS (Biro Pusat Statistik) pada tahun 2008 penduduk miskin di Indonesia mencapai 34,96 juta jiwa. Zakat diambil oleh amil dari orang-orang yang mempunyai harta lebih dan dibagikan kepada mustahiq. Dalam penghimpunannya diharapkan untuk lebih maksimal agar potensi zakat semakin meningkat, dan pada akhirnya proses penyaluran dana zakat juga bisa lebih optimal. Dengan adanya penyaluran dana zakat kepada mustahiq, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi para mustahiq.

LAZIS Infaq Takaful Syarikah sat ini hanya mengandalkan kegiatan dalam penghimpunan infaq yaitu dengan mengadakan sosialisasi, dan menyalurkan infaq dengan muzakki dari unsur anggota kelompok. Untuk mempererat system organisasi, LAZIS mengadakan pertemuan antara pengurus, muzakki, dan mustahiq setiap satu tahun sekali. Kemudian dalam penyaluran infaq bersifat santunan kematian dan tali asih pemakaman dan bantuan biaya rawat inap. Namun, di tahun tahun yang akan datang penyaluran dana LAZIS di upayakan dapat mengkover biaya untuk modal usaha tidak langsung hanya dari dana zakat saja melainkan gabungan antara dana zakat dan wakaf serta infaq itu sendiri.

KAJIAN DASAR HUKUM INFAQ TAKAFUL (PENDEKATAN LAZIS/BAZNAS)

Zakat berasal dari bahasa Arab berarti berkah (al-barakah), bersih (althaharah), berkembang (al-namaa’) dan baik (Munir dan Djalaluddin, 2006:151).

Zakat merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang menduduki posisi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat baik dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan umat, dan merupakan salah satu instrumen keuangan Islam yang dapat meringankan beban orang-orang yang membutuhkan. Zakat merupakan bagian dari mekanisme keagamaan yang berintikan semangat pemerataan pendapatan. Dana zakat diambil dari harta orang yang berlebihan dan disalurkan bagi orang yang kekurangan, namun zakat tidak dimaksudkan memiskinkan orang kaya. Seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 60, bahwasanya terdapat delapan golongan (ashnaf) yang berhak menerima zakat yang artinya :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang
dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang
berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Hal ini disebabkan karena zakat diambil dari sebagian kecil hartanya dengan beberapa kriteria tertentu dari harta yang wajib dizakati. Oleh karena itu, alokasi dana zakat tidak bisa diberikan secara sembarangan dan hanya dapat disalurkan kepada kelompok masyarakat tertentu dan perlu didirikan sebuah lembaga yang mengelola zakat. Lembaga zakat mempunyai peran yang sangat penting karena untuk melakukan sosialisasi tentang zakat kepada masyarakat secara terus-menerus dan berkesinambungan. Dengan sosialisasi yang baik dan optimal, diharapkan masyarakat akan semakin sadar membayar zakat melalui lembaga zakat yang kuat, amanah, dan terpercaya.

LAZIS Infaq Takaful Syarikah Mrebet merupakan lembaga yang mengelola zakat (infaq/iuran kematian dan / atau sebutan lainnya seperti semacam asuransi/tabarru) yang bersifat independent, artinya sebuah lembaga yang berdiri sendiri dan tidak terpusat. Semua kegiatan dan program-program yang dijalankan disusun dan dilaksanakan sendiri. Dalam hal penghimpunan dan penyalurannya pun tidak menunggu keputusan dari pusat, karena memang bersifat independent, maka dalam penghimpunan dan penyaluran dana zakat LAZIS, Infaq Takaful Syarikah bersifat kewilayahan.

Hal ini berarti potensi zakat sudah berkembang cukup baik dan dapat diketahui bahwa kepercayaan muzakki pada LAZIS Infaq Takaful Syarikah Mrebet cukup besar dan meningkat tiap tahunnya.

LAZIS memiliki potensi zakat yang berkembang cukup baik, kemudian dalam penyaluran dana zakat tidak hanya bersifat penanggungan semacam asuransi jiwa dan / atau asuransi pinjaman saja, melainkan juga bersifat ta’awun, dan produktif, misalnya pemberian santunan rawat inap dan santunan biaya pemakaman atau uang duka bagi muzakki / ahli waris.

Kedepan sebagian dari dana yang terkumpul dapat pula untuk menyantuni secara social keagamaan terhadap musibah maupun santunan yang bersifat produktif. Misalnya memberikan santunan becak  santunan grobak HIK, gerobak dagangan nasi, kepada pengangguran atau orang miskin. Hal ini dimaksudkan agar mustahiq mampu mencukupi kebutuhannya. Akan tetapi dengan bantuan tersebut tidak menjadikan mereka malas atau menggantungkan bantuan LAZIS selamanya. Bantuan tersebut diharapkan mampu mengangkat status mustahiq menjadi muzakki.

Mengenal Infaq dan / atau tabarru’at sebagai Asuransi dengan unsur tolong-menolong.

Asuransi konvensional sering dihubungkan dengan hal atau kejadian, seakan-akan masa depan seseorang selalu suram. Akan terjadi kecelakaan, rumah tidak aman dan bisa saja terbakar atau terjadi pencurian, perusahaan pun tidak bisa dijamin berjalan terus, pendidikan anak bisa jadi tiba-tiba membutuhkan biaya besar di tahun-tahun mendatang. Itulah gambaran yang digembosi pihak asuransi. Yang digambarkan adalah masa depan yang selalu suram. Tidak ada rasa tawakkal dan tidak percaya akan janji Allah yang akan selalu memberi pertolongan dan kemudahan. Kenapa asuransi yang selalu dijadikan solusi untuk masa depan? Ulasan sederhana kali ini akan mengulas mengenai asuransi dan bagaimanakah seharusnya kita bersikap.

Mengenal Asuransi

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, property, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. (Wikipedia)

Berbagai Alasan Terlarangnya Asuransi

Berbagai jenis asuransi asalnya haram baik asuransi jiwa, asuransi barang, asuransi dagang, asuransi mobil, dan asuransi kecelakaan. Secara ringkas, asuransi menjadi bermasalah karena di dalamnya terdapat riba, qimar (unsur judi), dan ghoror (ketidakjelasan atau spekulasi tinggi).

Masa Depan Selalu Suram” Ganti dengan “Tawakkal

Dalam rangka promosi, yang ditanam di benak kita oleh pihak asuransi adalah masa depan yang selalu suram. “Engkau bisa saja mendapatkan kecelakaan”, “Pendidikan anak bisa saja membengkak dan kita tidak ada persiapan”, “Kita bisa saja butuh pengobatan yang tiba-tiba dengan biaya yang besar”. Itu slogan-slogan demi menarik kita untuk menjadi nasabah di perusahaan asuransi. Tidak ada ajaran bertawakkal dengan benar. Padahal tawakkal adalah jalan keluar sebenarnya dari segala kesulitan dan kekhawatiran masa depan yang suram. Karena Allah Ta’ala sendiri yang menjanjikan,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath Tholaq: 2-3).

Tawakkal adalah dengan menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Namun bukan cukup itu saja, dalam tawakkal juga seseorang mengambil sebab atau melakukan usaha. Tentu saja, sebab yang diambil adalah usaha yang disetujui oleh syari’at. Dan asuransi sudah diterangkan adalah sebab yang haram, tidak boleh seorang muslim menempuh jalan tersebut. Untuk membiayai anak sekolah, bisa dengan menabung. Untuk pengobatan yang mendadak tidak selamanya dengan solusi asuransi kesehatan. Dengan menjaga diri agar selalu fit, juga persiapan keuangan untuk menjaga kondisi kecelakaan tak tentu, itu bisa sebagai solusi dan preventif yang halal. Begitu pula dalam hal kecelakaan pada kendaraan, kita mesti berhati-hati dalam mengemudi dan hindari kebut-kebutan, itu kuncinya.

Penutup

Dari penjelasan di atas tentu saja kita dapat menyimpulkan haramnya asuransi, apa pun jenisnya jika terdapat penyimpangan-penyimpangan di atas meskipun mengatasnamakan “asuransi syari’ah” sekali pun. Yang kita lihat adalah hakekatnya dan bukan sekedar nama dan slogan.

Nasehat kami, seorang muslim tidak perlu mengajukan premi untuk tujuan asuransi tersebut. Klaim yang diperoleh pun jelas tidak halal dan tidak boleh dimanfaatkan. Kecuali jika dalam keadaan terpaksa mendapatkannya dan sudah terikat dalam kontrak kerja, maka hanya boleh memanfaatkan sebesar premi yang disetorkan semacam dalam asuransi kesehatan dan tidak boleh lebih dari itu. Jika seorang muslim sudah terlanjur terjerumus, berusahalah meninggalkannya, perbanyaklah amalan kebaikan. Jika uang yang ditanam bisa ditarik, itu pun lebih ahsan (baik).

Catatan: Asuransi yang kami bahas di atas adalah asuransi yang bermasalah karena terdapat pelanggaran-pelanggaran sebagaimana yang telah disebutkan. Asuransi yang kami maksudkan adalah infaq yang dikumpulkan dari para peminjam dikumpulkan dengan maksud untuk kemaslahatan bersama, dikelola oleh pengurus Infaq Takaful Syarikah (UPZ/LAZIS) yang dalam hukum islam disebut dengan asuransi ta’awuni yang di dalamnya hanyalah tabarru’at (akad tolong menolong) dan asuransi seperti ini menurut kami tidaklah bermasalah. Barangkali perlu ada bahasan khusus untuk mengulas lebih jauh mengenai asuransi tersebut. Terkait pengelola, dan managemen pengelolaan, badan hukum serta detail aqad perjanjian dan Standar Operasional dan Prosedur yang bersifat teknis pelaksanaan dilapangan. Khususnya untuk pengelolaan Infaq Takaful Syarikah UPK Sinergis.

Semoga Allah mudahkan dan memberikan kelonggaran waktu untuk membahasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *