KONSEP DAN TEORI SINERGIS

“KAIDAH DAN PRINSIP SINERGIS” timbang

Pengertian Sinergis berasal dari bahasa asing, yang berarti satu kesatuan yang utuh, kuat antara elemen satu dengan yang lainnya yang saling memperkuat dan tak dapat dipisahkan.

Karena kedekatannya tersebut saling mendukung sehingga kebersatuannya menghasilkan kekuatan yang bernilai lebih atau dinamakan energi. Misalnya pisau, ada pisau dan ada pegangannya (doran). Kalau pisau dan pegangannya terpisah, maka alat tersebut tidak dapat dipakai (tidak berfungsi dengan baik).

Bagian-bagian dari sinergi tersebut juga berfungsi sebagai organ sebagaimana manusia. Manusia itu sendiri disebut organis yang sinergis, karena manusia terdiri dari organ-organ seperti : tangan, kaki, mata, hidung, telinga dan mulut serta organ lain termasuk di dalamnya ada organ yang tampak dan ada organ yang tersembunyi dan tak tampak yaitu jiwa dan pikiran.

Organ yang tersembunyi tetapi harus ada adalah seperti hati, ginjal, jantung, limfa, usus besar dan usus kecil, lambung dan sebagainya. Apabila salah satu bagian tadi tidak berfungsi atau berkurang fungsinya maka manusia tersebut sakit dan beratri bekerja tidak optimal karena fungsinya berkurang.

Sehingga yang dinamakan sinergis merupakan satu kesatuan utuh yang saling mendukung dan tak dapat dipisah-pisahkan. Alam dan Bumi kita sebagai habitat makhluk hidup diciptakanNya sudah bersifat sinergis. Ada manusia, tanah, hewan, air, udara, energi panas / matahari, yang mana satu sama lain sangat berkaitan, saling membutuhkan perlu adanya keseimbangan yang terus menerus (lestari).

Penyeimbang yang ada di alam ini juga ada predator dan ada mangsa, ada produsen ada konsumen, ada yang positif dan ada yang negatif, ada baik ada buruk, ada baka dan ada fana dan lain sebagainya (dari berbagai sumber).

Dalam ilmu ekonomi juga dikenal adanya sumberdaya manusia sebagai produsen yang juga berfungsi sekaligus sebagai konsumen, uang yang berfungsi sebagai alat tukar dan bernilai, serta metode. Dalam bahasa aslinya unsur ekonomi manajemen ada man, money, method.

Manusia sebagai sumber daya atau energi yang terbatas, uang yang bernilai ekuitas atau modal dalam kapasitanya juga terbatas dan metoda dalam habitatnya merupakan sumberdaya yang memiliki sifat dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui atau sekali habis (renewable dan non renewable).

Karena keterbatasan tersebutlah maka gunanya metode di sini perlu dicari makna bahwa semua elemen tersebut perlu diracik dan ditata agar dihasilkan nilai yang optimal.

Sebagai praktisi dalam PNPM ini saya tergugah untuk menulis berbagai kajian praktis yang berkaitan dengan manajemen pengelolaan sosio komite preneurship yang sinergis. Kedepan, melalui berjalannya waktu mudah mudahan ada jalan dan kesempatan untuk mengulas lebih jauh lagi konsep ini.

Pertanyaan sementara yang diperlukan jawabannya adalah bukan pada siapa tetapi lebih ke arah apa dan bagaimana prinsip itu hendak dijalankan, sebagai bagian pencarian jati diri serta bagian dari proses keberlanjutan lembaga UPK.

Permasalahan tersebut juga dilatarbelakangi sedikit sekali buku mengenai manajemen UPK sebagai lembaga mikro kredit dan sekaligus sebagai lembaga pemberdayaan yang ditulis oleh manajer yang mengelola langsung kegiatan ini. Belajar dari lembaga UPK lain yang telah menjalankan proses dan prinsip sinergitas dalam organisasinya memang membutuhkan akses informasi yang valid dan kita cenderung dalam sisi dan tataran “tidak tahu”, mana yang sinergis mana yang belum. Mana yang berpihak pada RTM dan mana yang berpihak pada ego kelompok atau bahkan melenceng dengan ego pribadi masing masing.

Mungkin banyak juga referensi dari studi banding UPK terbaik tingkat Nasional seperti UPK Kalijambe Sragen, Wanosalam Demak, Jatinom Klaten dengan BKAD terbaiknya, dan masih banyak deretan “cerita best practise” UPK yang masih diperlukan kajian dan pembahasan konsep blue print best practise_nya di lain tempat. Dan kesemuanya itu juga mencerminkan konsep dan kajian dari para manajer atau presdir UPK terbaik. Semoga kedepan masih terbuka lebar jalan untuk sampai ke sana. Referensi perkembangan kelembagaan dapat dilihat di asosiasiupkjateng.com

Realitas dalam “perubahan” / “pembadanhukuman” manajemen mikro kredit dan pemberdayaan DAPM (Dana Amanah Pemberdayaan Masyarakat) mungkin dalam waktu dekat akan tampil sebagai tawaran atas realita praktis manajemen kepemimpinan sosio komite preneurship dalam kaidah falsafah sinergis.

   cHaNgE ! – bEruBaH !!!

Tak peduli berapa jauh Jalan Salah

yang anda jalani….,

       Putar  Haluan  Sekarang juga !

 

“KAIDAH “BRAND SINERGIS” & REINVENTION”

brand

Esensi brand menjadi cara dalam mengartikulasikan atau mengekspresikan hubungan emosional. Esensi tersebut membawa kesan paling akhir yang dirasakan pelanggan atau pemakai dengan brand (Indra Jaya Sihombing_Master Trainer Unlimited Media Training Jkt).

Esensi atau jiwa suatu brand menjadi pembeda dan penciri yang sangat unik. Esensi tersebut membangun preferensi dan loyalitas suatu brand. Sifatnya yang tidak kongkrit dan intangible menjadikan brand memiliki nilai ekuitas tertentu yang harus dikelola sedemikian rupa dan terus berkomunikasi dengan pelanggan dalam bentuk saling jalin kepercayaan dalam membeli ulang.

Aspek ini mencerminkan “hati dan Jiwa” suatu produk atau jasa dalam hal ini pinjaman SPP maupun UEP dalam UPK PNPM. Ia merupakan jalinan hubungan emosional yang sangat kuat antara pemberi dan penerima atau nasabah. Sebagai miisal adalah merek “UPK SINERGIS” bagi kepala managerial dapat menjadi dasar arah dan langkah gerak kini dan kedepan bagaimana merealisasikan pengelolaan yang sinergis dalam melayani masyarakat. Bagi pihak konsumen pengelolaan yang Sinergis merupakkan janji atau hak yang mereka harapkan dan rasakan.

Ketimpangan salah satu pihak di dalam realitas menjadikan gap yang harus dikomunikasikan dan diperbaharui setiap saat baik lini pimpiinan maupun lini setara dan dibawahnya.

Fungsi esensi brand adalah menguatkan komitmen konsumen terhadap kelangsungan penggunaan brand SPP/UEP sebagai lasting impression. Esensi dan segala atribut yang dimilikinya termasuk slogan dan aspek merek harus bisa dialami dan dirasakan, sebab esensi adalah cerminan kualitas layanan dari suatu produk yang terus berevolusi. ‘dengan sinergis semua jadi bisa’ dapat diartikan sebagai single minded yang berarti dengan jalinan saling percaya menjadikan simpan pinjam menjadi sinergis baik bagi pengguna maupun sebagai pemasok yaitu UPK dengan kolektibilitas yang rendah dan output feed­_back bagi RTM yang menjadikan UPK melebihi best performance. Disini terkandung maksud bahwa esensi brand sebaiknya digunakan sebagai landasan setiap komunikasi brand dengan audiens.

Seiring dengan berjalannya waktu dan persaingan dengan lembaga keuangan dan pemberdayaan lainnya, suatu brand seringkali mengalami masa-masa kritis dalam menjaga dan memastikan bahwa esensi sinergis masih benar-benar kuat dan diakui para konsumen.

Aspek manajemen selalu dituntut agar gerak langkahnya tidak bergerak begitu jauh dari inti atau esensi brand. Kesalahan dalam pengambilan keputusan menjadikan judgment malah merusak dan membawa brand dalam bahaya sekaligus membahayakan hubungan dengan pelanggan. Pada akhirnya situasi ini akan mengorbankan pertumbuhan dan berbagai kesempatan meraup pasar yang lebih luas dan lestari. Jika dengan asumsi demikian maka presdir UPK diharap harus mempertahankan diri ditengah gempuran pasar dan perubahan zaman.

Untuk mencegah semakin lemahnya esensi brand maka UPK sebagai pengelola diimbau untuk terus melakukan reinvented atau perubahan signifikan, apalagi ketika diketahui esensi tersebut diambil alih oleh pesaing, terutama dalam hal suku bunga dan pelayanan purna jual. Reinventions, make over, atau memulai dari awal pembinaan jalinan konsumen harus menjadi pilihan ketika pilihan bahwa ketika brand berpotensi untuk maju secara progresif.

Timothy R Pearson dalam bukunya “The Old Rules of Marketing Are Dead” mengemukakan setidaknya ada lima asumsi cara pemasaran lama sudah tidak relevan pada masa kini dimana era informasi berbasis data yang sangat kaya saat ini.

Beberapa brand yang diamati ternyata mulai mengalami kemunduran karena pengelolaannya tidak melakukan reinvention terhadap konsep pemasaran mereka secara reguler.

Bahkan beberapa alasan juga mengatakan bahwa pola lama tersebut pun belum mereka terapkan. Padahal era dewasa ini menuntut pengelola meninggalkan cara lama. Bagi yang tidak melakukannya, mereka tergiring ke suasana pertumbuhan menurun, hingga akhirnya tidak tumbuh sama sekali.

Lima cara lama (dari berbagai sumber) tersebut adalah ;

  1. Biaya sebagai penentu, strategi Modal dan Aset dikesampingkan
  2. Brand sekedar brand
  3. Metode penelitian yang bersifat kualitatif, kepuasan konsumen tak terlihat
  4. Iklan adalah jawabannya dan marketing tak dapat diukur vs Media informasi moderen
  5. Teknologi tidak relevan untuk setiap perusahaan, Inovasi yang mati dan cenderung terkungkung PTO

Lima cara tersebut dinilai sangat membatasi reinvention sekaligus membahayakan brand. Sebab, ketika strategi diatas ditetapkan sebagai cara mempertahankan diri, maka yang terjadi adalah penurunan tingkat kompetensi brand sekaligus semakin mengurangi kemampuan brand dalam mempertahankan diri.

Sebagai contoh biaya operasional bukan merupakan penentu strategi pemasaran, justru ide program adalah jiwa suatu program yang dapat meningkatkan kualitas layanan terhadap pelanggan. Berbagai bentuk strategi unggulan mulai tahun 2012 banyak peningkatan kapasitas pelanggan, seperti paket pelatihan, bingkisan lebaran bagi anggota kelompok, hadiah kelompok berprestasi, kepuasan konsumen serta pembelian ulang atau komitmen kelompok merupakan reinventions yang banyak menjadikan brand lebih sinergis. Brand sinergis bukan sekedar merek /brand, sebab didalamnya termaktub arti dan jiwa serta visi dan misi UPK yang perlu dibuktikan dalam setiap kinerja pengelolanya, serta produk yang dikeluarkannya.

Assessment UPK tidak sekedar mencari data kualitatif akan kepuasan konsumen, sebab dalam penentuan jasa konsumen menjadi 1,1% hingga 1% mulai tahun 2011 hingga Maret 2016, merupakan data berdasarkan perhitungan kuantitatif yang digabungkan dengan aspek kualitatif dalam setiap pengelolaan dan prediksi pendapatan maupun surplusnya. Ternyata menyimpan banyak peluang penyimpangan. Management dituntut untuk berpikir ulang tentang program dan komposisi, jenis dan inovasi produk yang dijualnya. Iddle Capital perlu evaluasi dan pada akhirnya dapat menjadi peluang ekspansi bagi segmen baru / target baru.

Selain itu teknologi serta media informasi mulai digali efektifitas dan efisiensinya dalam mendukung brand yang disinergikan dengan pengelolaan dan kerjasama tim antar lembaga atau kepengurusan didalamnya. Termasuk konstituen aturan baru bagi BKAD, BP, TV dan tim pemutus pinjaman telah meletakkan landasan yang kuat pada tahun 2012. Sistem dan pengelolaan manajemen telah diperkuat dengan SOP dan aturan tambahan lainnya sehingga kinerja akan lebih terarah dan terukur dengan baik, dan sebaiknya menggunakan teknologi terkini sebagai ruh pelayanan dan perluasan akses masyarakat yang terintegrasi dengan baik.

Amanat perubahan aturan dan pengakhiran PNPM / DAPM menjadi bentuk badan hukum dan badan usaha baru membuka sekat jawaban menjawab tantangan zaman, yang harus dijawab dengan reorganisasi dan reorientasi organisasi Bumdes Bersama maupun organisasi terkecil lainnya.

Selamat bekerja, Salam sikompak dan salam sinergis.

“KREATIFITAS BERBASIS MANAGEMENT MARKETING SINERGIS”

kaidah sin

Ketika suatu usaha sudah menapaki jalan yang memiliki prospek, terkadang masih menemui kendala yaitu kurangnya Ikigai Micropreneur maupun Technopreneurship. Ikigai Micropreneur diartikan sebagai Visi Misi dalam menjalankan usaha mikro dan harapan terbesar kedepan usaha selama lima tahun sepuluh tahun kedepan.

Ikigai menggambarkan mimpi yang hendak dicapai melalui wirausaha mikro yang sedang digeluti hingga gambaran keberhasilan yang dicita-citakan. Technopreneurship diartikan sebagai kewirausahaan yang berbasis technologi berupa technologi produksi hingga technologi informasi berbasis internet yang seharusnya dirintis berbarengan dengan usaha memperluas lingkup pemasaran.

Sikap seorang wirausaha kadang langsung bergairah naik bersamaan dengan trend yang makin meningkat pula. Namun kita perlu menyadari adanya follower di samping kita, artinya ketika suatu bisnis memiliki peluang maka secara otomatis menurut kaidah pemasaran maka jumlah pemainnya juga akan bertambah.

Persaingan yang dirasakan pada akhirnya bertumpu pada aspek kreatifitas produk, desain atau model serta jenis produk tawaran, serta cara pemasaran yang efektif. Nah sebagai wirausahawan sejati tentunya harus berfikir seribu kali untuk tetap memperthankan solusi yang saya penulis namakan kaidah sinergis.

Perusahaan atau manajemen usaha mikro tersebut perlu mengubah sedikit gaya manajemen perusahaan dari yang tradisional menjadi moderen, serta tidak kalah pentingnya juga dalam memikirkan skema strategi besar yang dinamakan Ikigai, menjadi rencana kerja definitif lima tahunan atau renstra. Lebih jauh lagi perlu dilihat visi dan misi brandingnya jauh-jauh hari sebelum kita dikejar uang yang berkaki seribu.

Karena situasi kedepan yang jelas akan memasuki apa yang dinamakan hypercompetitions, utamanya bagi mereka yang membidik pangsa pasar yang jauh lebih luas yang berbasis teknologi informasi.

Setidaknya ada tiga dasar kaidah sinergis disini, dasar yang menjadi alasan untuk optimis. Pertama kita memang baru memasuki era ekonomi kreatif, sehingga inovasi menjadi kekuatan utama dalam memenangi persaingan bisnis. Bagi siapa yang memiliki kreatifitas lebih dalam ber ekonomi maka peluang meraih pasar dan kesuksesan usaha sudah menjadi modal terbesar, hingga bagaimana cara merealisasikannya.

Kedua zona yang penuh kejutan pembaharu (cracking zone Rhenald Kasali). Pada tataran ini pula kekuatan Ide dan Sikap (Attittude) berbisnis menjadi faktor kekuatan penentu untuk tampil menjadi pemimpin pasar. Ide merupakan kekayaan terbesar dalam bisnis, dengan kata lain Ikigai merupakan aset yang tak tampak. Bagi saya Ikigai merupakan cita-cita dan harapan yang rasional dengan data dukung desain dan RAB, project proposal, bussines plan dan lain hal semacam itu.

Ketiga menurut Al & Ries mengatakan bahwa kita memasuki era penciptaan katagori dan strategi produk baru, jauh dan jauh lebih kuat dari sekedar managing Brand Product. Jadi kita harus optimis dan antusias melalui tiga kaidah sinergis ini.

Langkah pertama gambaran mimpi besar (Ikigai) tentang pasar potensial harus kita buat skema usahanya berupa segmenting dan targeting. Ada tiga katagori pasar potensial yaitu Women, Youth, dan Netizen.

Women atau Wanita merupakan kekuatan terbesar di sini. Sebagai produsen juga sebagai sasaran pangsa pasar yang menjanjikan sebagai pengambil keputusan dalam pembelian kembali.

Youth atau remaja menempati posisi tertinggi dalam lingkup tren Dunia dewasa ini.

Internet atau Netizen adalah media sosial yang mulai merakyat pun jangan dilupakan ini.

Targeting atau penetapan target yang jelas juga menghasilkan apa produk yang dibutuhkan dengan pangsa pasar yang tak terbatas. Sasaran harus jelas terdefinisikan dengan desain yang harus memiliki keunggulan dan daya tawar tinggi.

Deskripsikan secara jelas jenis kelamin, usia, lokasi, gaya hidup dan kemampuan membelanjakan uang target kita untuk tiap-tiap produk yang kita bidik. Sebab tanpa prediksi tersebut kita akan bingung termasuk fatal dalam membuat inovasi produk yang diinginkan pasar.

Setelah menetapkan target, kita perlu memposisikan produk kita (positioning-nya). Kelebihan langkah ini akan lebih penting tatkala kita sedang menetapkan manfaat tawaran produk kita agar mudah di ingat dalam memori benak konsumen.

Jadi jangan lupa, apa posisi produk anda yang unik, berbeda, dan mudah diingat konsumen dibandingkan dengan produk lain. Dan terakhir, kuatkan terus tim kreatif dalam tiga situasi pasar yang ketat dan rumit ini.

Ada empat hal yang dapat menjebak follower agar produk kita tidak mudah dijiplak yaitu ; bernilai bagi pasar (Valuable), langka (Rerely), dan terakhir pastikan bahwa produk kita sulit ditiru atau kalaupun bisa ditiru maka upayakan produk tersebut memerlukan biaya yang mahal untuk ditiru atau diikuti (Costly to Imitazed). Serta yang terakhir, kuncinya adalah produk tersebut tak tergantikan di mata konsumen dan secara langsung ciptakan Barrier to entry (Halangan untuk masuk pasar kita).

Nah itulah landasan bagi anda dalam membuat rancangan strategi pengembangan usaha kreatif berbasis Internationaly Based Comitmen of Consumers (Indra Jaya Sihombing_Master Trainer Unlimited Media Training Jkt).. Semoga bermanfaat dan mudah di aplikasikan. Dengan ini tak ada alasan lain lagi bagi UPK PNPM MPd untuk berperang dengan pesaing. Salam sinergis.

 

UPAYA MEMBANGUN NILAI EKUITAS MEREK BUMDES BERSAMA “UPK SINERGIS”

bumdes sinergis

Pada dasarnya menyusun sebuah Program Penanggulangan Kemiskinan yang strategis dan sinergis adalah manakala kita mampu mentransformasikan –(menyederhanakan) skema Proyek PNPM Reguler kedalam skema Program Kerja yang berkelanjutan.

Strategi yang dirumuskan mencakup macam kegiatan, mekanisme pelaksanaan, pembagian peran, kebijakan penunjang pada prinsip STP ;

Segmenting –menentukan segmen garapan–,

Targeting –target yang hendak dicapai–,

Positioning –memposisikan Merek ke Hati Konsumen–.

Penanggulangan kemiskinan hanya efektif apabila dilakukan oleh masyarakat, pemerintah lokal dan didukung partisipasi kelompok setempat secara mandiri dan berkelanjutan. Sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah lembaga maka nilai ekuitas dapat diukur melalui eksplorasi dan reposisi sebuah merek lengkap dengan slogan dan logo perusahaan / organisasi dalam aktifitas kerja kesehariannya.

Tidak kalah pentingnya peran strategis UPK dalam menstimulasi pemberdayaan yang dimaksud, perlu kiranya disampaikan filosofi dan brainstorming –- prinsip-prinsip–Merek UPK SinergiS. Kemandirian dan pembangunan berkelanjutan —sustainable development— dapat terwujud dalam kesetaraan dan kemitraan antar pelaku pembangunan lokal yang bertumpu pada 3 pondasi ;

  1. Nilai Luhur Kemanusiaan (Tridaya Moral H.Widodo dg Core Unit Sinergis )

Kebersamaan, Keterbukaan, Kejujuran dalam setiap Proses dan Pencapaian Tahapan Kegiatan lebih berfungsi sebagai transformasi internal Pengurus Bumdesa agar dalam setiap gerak langkah dalam bekerja mencerminkan amanah dalam menjalankan tugas sehari-hari untuk mencapai Visi dan Misi UPK. Dalam budaya organisasi, jika hal ini diterapkan akan menciptakan sinergitas dalam hal sebagai berikut, dengan adanya kebersamaan, maka kerja akan menjadi terarah, keterbukaan dapat meningkatkan kepercayaan serta kejujuran menjadikan kinerja dapat dipertanggungjawabkan secara moril maupun materiil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,

2. Prinsip-prinsip Kemasyarakatan (3 Aspek Good Governance)

    • Pro Poor Policy, (Fasilitasi Moral dan Materiil dalam mengatasi permasalahan masyarakat, dimana setiap kebijakan yang ditetapkan berorientasi pada kebijakan penanggulangan kemiskinan secara terpadu.)
    • Pro Poor Commitment (Melaksanakan tugas pembelajaran dan komitmen agar dapat meraih keberdayaan dalam menanggulangi kemiskinan, dedikasi dan loyalitas sudah sepantasnya menjadikan komitmen bersama yang berorientasi pada RTM.)
    • Green Development (Social Stability) Pembangunan berbasis masyarakat merupakan upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam setiap perencanaan pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini secara riil dapat membantu ketahanan sosial ekonomi masyarakat, utamanya dari hasil modal perguliran dan alokasi sisa hasil usaha untuk RTM setidaknya dapat digunakan sebagai jejaring pengaman sosial.
    3. Prinsip-prinsip Berkelanjutan (Aspek Tridaya Partnership Bangun Irianto)

Tridaya Sinergis menuju kemitraan dan kemandirian (Partnership & Foundations) mencakup tiga aspek sinergi ;

  • Strategi Kemandirian, berarti dalam merencanakan dan melaksanakan suatu kegiatan sekecil apapun diperlukan sebuah strategi, terlebih lagi dalam melaksanakan tugas pemberdayaan. Berawal dari strategi yang disusun sebenarnya dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan. Sebuah strategi yang disusun dengan baik merupakan sebagian usaha mencapai keberhasilan.
  • Fokus dalam bekerja dan Kerjasama pemberdayaan dengan pihak lain dalam mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi UPK Mrebet diharapkan dapat meminimalisir permasalahan sampai dengan limit batas yang sewajarnya / optimal.
  • Perlu Tahapan Penyelesaian yang berkesinambungan / Keberlanjutan (sustainable)

BRANDING UPK SINERGIS

sINerGIs LogoKesimpulan sementara dari berbagai pengertian, filosofi dan prinsip-prinsip tersebut memposisikan berdirinya Bumdes Bersama UPK SINERGIS merupakan sebuah lembaga Sosial Ekonomi yang berpihak pada pengentasan RTM dan Pemberdayaan Perempuan, dibidang ekonomi (simpan-pinjam), pendidikan, kesehatan, sosial, dan kegiatan sosial ekonomi dasar, yang berdampak pada perluasan kesempatan kerja.

Alasan dan harapan tersebut dapat dijadikan sebagai dasar yang tercermin dalam sebuah Nama Merek UPK Sinergis, beserta atribut yang mengikutinya.

  1. Karakter dan Nama ( Characters )

         Font atau bentuk tulisan yang dipilih adalah bentuk Footlight MT Light Bold, atau Georgia Blue Dark dengan tinggi karakter 2.99 dan lebar karakter 5.6pt tulisan UPK dengan font besar sementara tulisan sinergis huruf S kedua-duanya di awal dan diakhir adalah font Besar / Caps Lock. Karakter UPK Sinergis tersusun dari Wordart Text SinergiS, Georgia Blue Dark size 36 Bold, Size Height 2.99 dan Width 5,6 Scale Heigth dan Width 100%. Karakter tersebut berkait dengan makna simbolis menjadi kata SinergiS, dengan tampak muka cembung. Sedang tulisan sinergis terdiri dari kata ejaan SINERGIS memiliki karakter sebagai berikut :

Jika A = 1, B = 2, C = 3, D = 4, E = 5,  F = 6,   – dst hingga –   Z = 26

Maka

         Mandiri = M=12 + A=1 + N=14 + D=4 + I=9 + R=18 + I=9 = 67%

         Attitude   = 100%, dan selanjutnya Kata Sinergis terhitung sbb;

         S+I+N+E+R+G+I+S = 100% yang tersusun dari pengertian ;

S ejahtera, ber-Integritas, N etwok orientations, E mpati, R amah, G oal oriented dalam mencapai tujuan mulia, I  lmu dan amal ( Ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah), S ikap (Attitude), bernilai 100% dan Strategi  yang inovatif dan Secure

Arti pemahaman tersebut bermakna bahwa kemandirian dalam berusaha tidaklah cukup, perlu strategi lain yaitu berupa Kerja Tim (sinergi), dan sikap yang total dalam memberdayakan, (Sikap / Attitude = 100%). Untuk mencapai performan yang berkualitas maka diperlukanlah UPK yang SINERGIS = 100%. Pepatah mengatakan We see what we saw, we think what we thought, we do what we did and the conclution is, “SINERGIS” in my work.

2. Logo SinergiS, Logo UPK Sinergis terdiri dari karakter dan siombol SinergiS

  • Character SinergiS terdiri dari Kata Sin + er + giS seolah Cembung dan terdapat karakter “er” di tengah yang berarti Empati dan Ramah dalam melayani masyarakat.
  • Bentuk Mata Uang Logam (Double Coinside) Menggambarkan sisi Sosial Pemberdayaan dan sisi Bisnis Keuangan
  • Kurva Pyramida Terbalik di belakang ‘er’ Menggambarkan tujuan membangun masyarakat dan memberdayakan masyarakat menjadi susunan piramida terbalik dimana konstruksi sosial ekonomi masyarakat yang sejahtera tercukupi sandang dan pangan digambarkan seperti piramida kebutuhan manusia yang terbalik atau Sejahtera.
  • Simbol sinergis digambarkan dari tiga buah lingkaran energi yang membantuk pilar kurva sinergis. Sebagaimana gabungan 3 cangkang telor, sebagai asal mula adanya embrio pemberdayaan yang “saling terkait satu sama lain membentuk matriks sinergis. Sementara piramida yang terbentuk menunjukkan piramida terbalik atau simbol menunjukkan cita-cita tinggi untuk merekonstruksi – membangun kembali struktur masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian lahir dan batin sebagaimana cita-cita dan tujuan serta visi dan misi UPK SINERGIS membangun ekonomi Kecamatan Mrebet menjadi piramida yang sejahtera dan mandiri.

3. Slogan Partnership & Foundations

partnership & foundations0Background putih dan warna emas menunjukkan bahwa UPK Sinergis Dalam perjalanannya senantiasa didasari dengan kesucian hati kebersihan jiwa. Hijau pada warna lingkar melambangkan bahwa dalam setiap gerak langkah selalu disertai dengan hati yang damai, pikiran yang bersih untuk mencapai cita-cita mulia. Orange berarti berani dalam melangkah untuk kebenaran. Biru berarti keluasan dan kekayaan hati dalam menampung setiap aspirasi pemberdayaan, dan dalam menyelesaikan setiap masalah. Bermacam warna konfigurasi didalam matriks menunjukkan beraneka ragam usaha segmen masyarakat yang bersinergi dalam usaha-usaha pemberdayaan bersama UPK.

Lambang UPK SINERGIS adalah rangkaian gambar Lingkaran dan Garis Sinergis yang menunjukkan SINERGI yang dapat terbentuk dari berbagai macam unsur filosofi.

Tulisan SINERGIS yang memiliki arti bahwa Kemandirian, fokus, serta tidak meninggalkan tahapan proses tidaklah cukup apabila masing-masing berjalan sendiri sendiri, untuk itulah dibutuhkan kebersamaan & kerjasama (partnership), keterbukaan dan kejujuran dalam Pemberdayaan (foundations), dalam memperjuangkan pemberdayaan dengan mensejahterakan masyarakat yang disertai dengan ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah menuju kesejahteraan lahir dan batin.(Sinergis).

4. PRINSIP SINERGIS DALAM ARUS PERUBAHAN

PRINSIP SINERGIS………………………adalah…

Menuju masyarakat yang ;

Sejahtera dan Ber – Integritas,

Network orientations, Empati, Ramah, Goal orientations,

Ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah,

Strategi yang inovatif didukung dengan ;

( Sikap (Atittude) dan usaha yang Secure dan berkelanjutan )

Dan selanjutnya,…..Menerapkan sinergitas kedalam 

lingkaran siklus KAD (Kerjasama Antar Desa) yang terus menerus melalui Visi dan Misi serta Program Kerja kedalam skema proyek…

PERUBAHAN;

I

PEMBAHARUAN;

I

KONTINUITAS;

I

BANGUN AMAL USAHA ;

I

PERUBAHAN;

I

PEMBAHARUAN;

I

KONTINUITAS;

I

BANGUN AMAL USAHA ;

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *