Ide Kecil ; Mengubah Hutang, Menjadi Berkah & Lebih Sinergis

Hal yang paling urgen yang dibutuhkan untuk mengubah manusia adalah mengubah pola pikirnya – Abraham Maslow. Ada banyak alasan tentang mengapa dan bagaimana cara berhutang dan bahaimana cara membayarnya. Ini yang dinamakan motifasi. Dengan mengenal Motif, kita akan mengetahui Pola dan selanjutnya kita dapat mengenal pula Tindakan.

Motif – Pola dan Tindakan adalah sebuah koin mata uang sinergis yang dapat digunakan untuk pendekatan menganalisa Pinjaman dan Permasalahannya. Di satu sisi dapat terlihat dan bersifat positif – di sisi satu lainnya bersifat negatif atau dengan kata lain bersifat membunuh.

Manfaat atau kelebihan adanya hutang dapat berakibat positif apabila hutang digunakan dengan takaran yang pas dengan menimbang sinergitas atau manfaat yang bertumpu pada nilai guna dan fungsinya mata uang itu sendiri.

Baik sebagai alat tukar dalam usaha ekonomi yang efektif dan evisien serta dapat pula sebagai investasi dan modal berwirausaha. Satu sisi jika digunakan secara salah dan lebih pada sifat konsumtif dan tidak terarah maka pinjaman dana SPP / UEP dapat menjerat seseorang untuk terlilit hutang, apabila disertai dengan tindakan dan pengguna dengan Character buruk dengan segala pengertian.

Sebelum anda memutuskan pinjaman ada baiknya untuk mengenali terlebih dahulu Kacamata ‘Motif – Pola – Tindakan’ sebagai berikut :

  1. Keinginan – Kebutuhan – Kemampuan

Motifasi positif orang mendapatkan Pinjaman atau uang tunai untuk memenuhi keinginan, mencukupi kebutuhan hidup, dan harus dipikirkan tentang seberapa jauh kemampuan kita dalam mengembalikan tiap bulannya. Tetapi dapat menjadi pembunuh jika pinjaman tidak dilandasi dengan batasan kemampuan atau malah niat jelek. Contohnya Ingin ini, ingin itu dibelanjakan dengan boros, dengan kebutuhan yang banyak sekali tanpa prioritas dan kekangan hawa nafsu, untuk gali lobang tutup lobang, tidak hemat menabung dan tidak bijaksana dalam penggunaan dananya, mampunya maksimal pinjam 1 juta cukup tetapi dipaksakan pinjam 9 juta, saran anggota lain tidak dihiraukan maka yang terjadi adalah kebutuhan jangka pendek terpenuhi dengan hutang tetapi hanya bisa mengangsur 1 bulan selebihnya macet atau nunggak. Maka yang dirugikan dia sendiri juga anggota yang lainnya, perguliran berikut ditunda terus hingga terkena sanksi lokal.

  1. Mendesak – Jumlah – Tempo atau durasi

Hutang dapat menjadi solusi yang paling baik ketika ada kebutuhan yang muncul secara mendesak yang sudah diprediksi secara matang tentang prioritas, Jumlah kecukupan pinjamannya dan sudah direncanakan dengan jumlah angsuran yang diukur dengan kemampuan kita mengangsur. Contoh kebutuhan anak masuk sekolah, uang belanja, kebutuhan tambahan modal menghadapi lebaran, dan kebutuhan lain yang tidak terprediksi munculnya bencana alam, usaha bangkrut harus diukur dahulu prioritas penggunaannya – dana yang dibutuhkan – serta jangka waktu pengembalian apakah cukup 1 tahun atau 18 Bulan.

  1. Konsumptif/Produktif – Menabung – Hidup Hemat

Positifnya berhutang dapat dijadikan sarana untuk menjalankan dan membangkitkan kewirausahaan, ada hasilnya disisihkan untuk ditabung dan untuk mengangsur tiap bulan, hidupnya hemat dan bijak dalam membelanjakan uang. Negatifnya merupakan kebalikannya.

  1. Semangat kerja – Ulet/Gigih – Berani mengambil resiko/ penuh perhitungan

Orang yang berhutang dalam kondisi tertekan seseorang akan lebih terdorong potensinya dan terpicu energi kreatifnya selebihnya perlu dengan kesabaran menghadapi cobaan ekonomi rumahtangga, ulet, semangat dan gigih dalam bekerja, penuh dengan perhitungan dalam berusaha dapat menjadi kunci yang evektif dan evisien sebagai peminjam.

  1. Psikologi yang baik – Sehat akal sehat raga – niat atau sikap dewasa

Secara Psikologis orang yang berhutang adalah orang ingin mencukupi kebutuhan hidup. Misalnya malu tidaknya pada orang lain jika hutang tidak lancar atau malah tidak lunas, kondisi keluarga yang harmonis dan tidak bisa menjadi penyebab kemacetan. Mental yang buruk dengan ketergantungan yang tinggi tanpa diimbangi dengan penghasilan yang memadai dapat membentuk karakter seseorang untuk bersikap korup, boros dalam rumahtangga juga menjadi faktor utama kemacetan. Tipe ini biasanya juga terjadi pada pengurus kelompok, karena terpaksa dan desakan ekonomi ada orang yang nekat menggunakan angsuran anggotanya untuk dipinjam sementara memenuhi kebutuhan pribadi namun perkiraan pengembalian meleset akhirnya terperangkap dengan seribu kecurangan terbelit hutang dan masuk sebagai penyimpangan, penggelapan, korupsi dan tindak pidanalah yang akhirnya berbicara.

  1. Menjadi Beban Keluarga – Beban Kelompok – Beban Desa / Beban Sosial

Berhutang menyebabkan terjadinya dalam keluarga, secara tidak langsung menjadi beban bagi anggota keluarga yang lainya (baca-Kelompok) dan bisa menjadi beban masyarakat / sosial. Terbukti warga 4 Desa yang menunggak hutang SPP atau UEP telah menjadi beban Keluarga, Pengurus kelompok /pelaku PNPM, dan beban desa saat MAD Prioritas dan penetapan desa tidak mendapatkan kegiatan Sarpras, atau tidak mendapatkan proyek.

Nah kalau seperti ini akhirnya yang dirugikan akan juga tanggungrenteng. Semestinya pola pikir seperti ini tidak usah hanya dibaca tetapi sangat perlu menjadi pola pikir siapa saja yang ingin berhasil dunia akhirat. Dari mana memulainya? Dari diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita, supaya dengan berfikir lokal tetapi dampaknya secara global dapat terasa manfaatnya bagi seluruhnya. InsyaAlloh Barokah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *