Sudahkah Anda Memiliki Toleransi Kecemasan Dalam Bekerja? Be Sinergis atau Siap-Siaplah Merugi!

sumber: http://thesensualliving.com

 

upksinergis.com Kecemasan ada batasnya dalam melaksankan tugas pekerjaan yang menumpuk, sering kali dapat menimbulkan kecemasan yang dapat diatasi maupun terlkena anxiety disorder yang signifikan. Kecemasan menggambarkan kondisi psikis berupa rasa khawatir berlebihan yang sering muncul pada kondisi penuh tekanan sedangkan (tension type headache) TTH sering dialami pada kondisi kelelahan dan ketegangan fisik berlebihan dalam bekerja. Bahkan dalam situasi dan kondisi tertentu, toleransi terhadap kecemasan sangat berpengaruh terhadap laba perusahaan, bahkan perusahaan dapat merugi dalam jangka panjang.

Dalam sebuah komunitas, pengertian secara bahasa menurut wikipedia, toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi sekali pun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Situasi yang nyaman dalam bekerja dan remunerasi yang memadai dapat sedikit mengurangi tingkat toleransi karyawan terhadap stres dan sikap yang toleran saling menghormati dan menghargai hasil karya orang lain. Namun ada tiga macam toleransi, yang perlu diwaspadai perusahaan yaitu:

Toleransi bawaan (primer)

Dalam kondisi tertentu sebuah demokrasi dalam sebuah perusahaan menjadikan orang yang tidak tepat dada posisi yang menantang. Jauhnya pertimbangan profesional dapat menjadikan toleransi ini menjadi bomerang yaitu mengabaikan direksi yang kurang kompetensi. Jenis toleransi ini bertentangan dengan prinsip The right men on the right places.

Toleransi dapatan (sekunder)

Toleransi sekunder lebih cenderung tak terlihat dari kinerja nyatanya. Habituasi buruk atau kebiasaan buruk dalam salah satu pengertian adalah suatu gejala ketergantungan psikologis terhadap tugas rutin antar bagian dengan ciri-ciri, di antaranya ingin selalu diperhatikan atasan, cenderung menuntut, gaji yang kecil, timbul ketergantungan psikis terhadap atasan tanpa inovasi dapat menimbulkan efek yang merugikan individu. Serta dapat merugikan perusahaan secara global.

Toleransi silang

Toleransi silang, timbul karena hambatan kinerja yang serupa atau merupakan derivatnya. Misalnya tidak berfungsinya antar bagian penting dalam struktur organisasi dapat menjadikan bagian lain terhambat atau malah tidak dapat berjalan sama sekali. Selain toleransi sekunder, toleransi primer pun menyerang, maka kondisi ini akan berdampak secara signifikan dalam perusahaan. Kebanyakan perusahaan gulung tikar atau bangkrut disebabkan oleh bahaya toleransi silang.

Sebagai kesimpulan, akan lebih baik menciptakan toleransi yang positif sebelum perusahaan menjadi kronis. Yaitu dengan melalui cara prefentif dan komunikatif dua arah, sehingga permasalahan yang terdeteksi secara dini dapat menyelamatkan masa depan perusahaan.