Tips Jitu Agar BUMDesa Dapat Mengalahkan Persaingan Bahkan Predator Pun Lumpuh

upksinergis.com Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Ahmad Erani Yustika dalam workshop penguatan Bumdesa Bersama sekilas memberikan tips agar Bumdesa yang bertumbuhan jangan menjadi predator usaha yang ada di perdesaan.

“Afirmasi Bumdesa Bersama dalam pemanfaatan sumberdaya finansial masyarakat di desa adalah ketika kaki-kaki sudah mulai kuat melalui intervensi maka kolaborasi, inovasi desa menguat dan membuka skat bagi kesejahteraan masyarakat perdesaan, dimana setiap potensi bergabung secara sinergis menjadi sebuah kekuatan yang saling berdaya saing. Jika BUMDes hanya menggarap usaha-usaha yang sudah ada, maka BUMDes hanya menjadi predator.” ujar Dirjen Erani di Semarang (17/11).

Jika BUMDesa menjadi musuh masyarakat itu sendiri maka usaha masyarakat akan mati. Oleh karena itu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam hal ini.

Pertama,Peningkatan nilai guna produksi bahan baku, perlu ditingkatkan ke arah sektor pengolahan manufaktur dan industri dalam skala ekonomi yang cukup dan berkelanjutan. Peningkatan nilai guna dan nilai tambah menjadi kunci untuk menggerakan BUMDesa. Erani menyebutkan “fakta bahwa Indonesia ternyata miskin produk turunan namun kaya akan bahan baku.”

Kedua, Relevansi kawasan ada karena Bergaining Position. Rantai pasok habis untuk sampai ke konsumen akhir, sementara produsen gigit jari dan rantai pasok mengayakan diri. “BUMDesa Bersama diarahkan untuk mengumpulkan dan mengagregasi kedalam kawasan sehingga harga menjadi tinggi dan murni. Bukan sebaliknya sebagai Price Maker mengapa kita perlu bicara kawasan agar tidak ada persaingan bukan juga sebagai predator tapi sinergi yang saling terkait. Nothing Competitions but collaborations Intensive”. Imbuhnya.

Manajemen diperlukan karena penyederhanaan kawasan desa yang berjumlah banyak hingga sebanyak 75.000 Desa, memungkinkan supervisi yang luarbiasa banyak dan tidak bisa dikendalikan. Jika masing-masing kabupaten memiliki ‘Zona Ekonomi’ maka kolaborasi bisa menciptakan sentra ekonomi yang diperlukan.

Ketiga, Urgensi BUMDesa Bersama tidak dikuasai oleh Desa, namun sebagai instrumen yang mengorganisasikan dengan sinergis dan profesional, serta berperan sebagai konsolidator seluruh sektor dengan kuat, bukan hanya pemanfaatan ekonomi perdesaan tetapi sebagai kawasan.

Agar dapat terkonsolidasi dengan baik dan tidak menjadi predator maka BUMDesa perlu mengapresiasi tiga aspek penting;

1. BUMDesa Bersama dapat mengkonsolidasi sektor ekonomi, dan dapat memposisikan diri menjadi institusi yang penting yang menjalankan fungsi peningkat nilai guna dan memangkas biaya, atas penguasaan sumberdaya alam di desa.

2. Dengan skala ekonomi yang besar dan promosi dilaksanakan untuk menjangkau pasar yang lebih besar menjadi memungkinkan untuk dikelola secara profesional oleh institusi dan organisasi yang mapan yaitu BUMDesa Bersama.

2. Untuk membangun advokasi kebijakan ekonomi di desa tanpa afirmasi yang adil, maka yang terjadi adalah BUMDesa bertanding dengan pelaku handal dan ini sangat tidak menguntungkan bagi pelaku baru seperti BUMDesa. Advokasi oleh pemerintah memungkinkan sebagai contoh peraturan pemerintah yang bervisi melindungi usaha mikro dan kecil dapat di tetapkan. Secara kongkrit organisasi pengusaha pun secara langsung dan pasti akan tunduk dengan peraturan pemerintah dan usaha UMKM maupun usaha yang dilakukan BUMDesa dapat terlindungi dan bertumbuhan.